SINABUNG ITU....

SINABUNG ITU….

Setahun yang lalu, tepat di bulan Juli perkenalan pertama kita, melalui salah satu media chat social, perkenalan yang tidak pernah disengaja, aku menginjakkan kakiku di kota Medan ini untuk sebuah urusan kantor. Menginap di sebuah hotel yang begitu dingin hingga membekukan seluruh jiwaku. Aku merasa kosong seperti sebuah patung manekin yang memiliki fisik namun tidak hati. Paras yang menurutku lumayan menarik namun sayangnya sangat hampa, yah sudahlah mungkin itulah makanya aku sangat menyukai kegiatan diluar seperti ini. Menjauh dari sisi kehidupan yang hangat.
Baiklah, kembali kepada hotel itu, sebuah hotel yang megah di tengah kota medan, begitu anggun, aku berdua dengan sahabatku, kami cukup menikmati semua fasilitas yang ada di hotel itu, aku sangat menyukai sarapannya. Wahh… hebat, menunya cukup mencairkan lidahku.
Terlepas dari itu semua aku mulai meraih handphone ku, mengotak atik semua aplikasi yang kupasang di gadget itu, lalu kulihat di daftar aplikasi yang kupasang ada sebuah applikasi chat yang sudah lama kubiarkan, dan memang hanya kubiarkan juga, dan pada akhirnya aku menekan menu kembali ke versi pabrik, ya… aku me reset Handphone ku, menghapus semuanya, well… cukup sudah, waktunya aku memulai segala hal dengan yang baru!.
3 hari di Medan cukup membuatku lelah dan biasa-biasa saja, akhirnya aku kembali ke Jambi, siap untuk bertempur dengan segala aktivitas yang padat, kembali ke lingkungan kerjaku. Kembali kepada hal-hal yang sama, semuanya tetap beku meski kucoba me reset handphone ku, tapi itu apa hubungannya coba? Ahh… gak usah dipertanyakan dan dipikirkan karena akupun juga gak paham, yang pastinya aku cukup menikmati, ibarat meneguk air the tawar di tempat warga melaksanakan yasinan di perumahan pada zaman tahun 1990an… “Tawar”, namun cukup menghilangkan “Haus”. Cukup ada warnanya jadigak kentara bener kalau itu bukan air putih.
Sepulang kerja di hari itu, seperti biasa lagi-lagi kuraih handphone ku setelah menidurkan bos cilikku, anak laki-laki semata wayang kesayangan. Jangan tanyakan dimana ayahnya, karena itu semua sudah berlalu. Kubuka semua aplikasi yang ada di handphoneku, uh… minim, oh iya aku ingat, aku telah me reset nya dan sama sekali belum menginstal aplikasi medsos apapun di dalamnya. Kubuka akun playstore dan mulai satu demi satu menginstal facebook, bbm, whatssap dan game kesukaanku, Clash of Clans. Sejenak menanti semua aplikasi itu terinstal aku membuka aplikasi sampah, yah kunamakan sampah karena itu daftar aplikasi yang sudah kubuang, tapi entah kenapa mataku terpaku pada satu aplikasi chat yang mana pemberitahuannya kerap masuk di emailku, uh… pasti sebelumnya dulu aku telah menghubungkan akun itu dengan alamat emailku, ya sudah aku ingin sedikit bernostalgia dengan aplikasi itu, mencoba membuka dan membaca pesan demi pesan yang pernah ada didalamnya.
Kudownload kembali aplikasi itu, menunggu beberapa menit, dan akhirnya selesai dan kubuka dengan sempurna, kembali memasukkan akunku kedalamnya. Hmm…. Tidak begitu buruk, aku suka isi chat di dalamnya, urutan demi urutan nama, permintaan chat dari orang-orang baru hingga mataku tertuju pada sebuah nama, yang menyapaku, kuabaikan permintaan chat dari yang lainnya karena hatiku kuat ingin membuka satu chat dari nama itu. “Andre” ehh… hm… siapa? Kubuka foto-fotonya, tidak ada yang istimewa tapi tanganku terus menari di atas keypad, dan membalas sapaannya, ahhh… paling juga orang iseng pikirku. Tapi yah, sudahlah…
Kudengar bunyi notifikasi dari handphone ku, eh… balasan chat darinya, obrolan sedikit berlanjut karena aku pun mulai ogah-ogahan membalas chat. Dia chat aku kapan, aku baca dan balasnya pun juga kapan, simple sih karena aku memang tidak pernah terlalu tertarik dengan hal-hal yang demikian. Well… just a chat, and waste my time. Lanjut…

Itu pikirku, pikiran yang akhirnya membalikkan semuanya. Aku sedikti demi sedikit tertarik dengannya. Obrolan kami ringan dan pada akhirnya berlanjut via telfon, whatssap, line, uh… gak ada perasaan apa-apa sih, hingga pada suatu hari secara tidak sadar aku berucap, “bang, aku ingin jumpa”. Satu kalimat yang pada akhirnya menghantarkanku pada garis nasib yang sekarang, menjalani hidup dengan satu cinta kepada sang Adam. Sang Adam yang pada akhirnya saat itu kuketahui bernama “Jimmi Andreas Sitepu”……

BERSAMBUNG...

Komentar