MEMORY

Menghitung jejak-jejak tiap petualanganku agaknya tak seindah menghitung lembaran biru ataupun merahnya yang bertuliskan angka, meski sebenarnya tidak jauh berbeda, sama-sama memusingkan karena itu bisa didapatkan namun sekejap mata pun terhapus dengan begitu saja, hanya di sini bedanya mungkin karena lembaran-lembaran berwarna dan berangka itu diminati oleh semua kalangan dan umur, namun lembaran jejak-jejakku hanya aku saja yang meminatinya, (sekali lagi aku ingin melupakannya), sampai di sini mungkin aku sudah tak paham apa lagi yang harus kuhitung, sebaiknya kumulai saja...
dalam tiap sobekan cerita, ada alur-alur yang terkadang membuatku bingung bagaimana cara untuk menyatukannya, karena hingga detik ini, aku belum menemukan cara untuk mengikatnya untuk menjadi suatu kesatuan yang utuh. biarkan saja sobekan itu terkembang oleh angin, atau terjatuh ke dalam jurang, atau biarkan saja hanyut di dalam aliran air dan terus ke samudra yang luas (aku sama sekali tak peduli), inginku memang begitu, tidak peduli sama sekali tapi anehnya kadang ada sebuah ketukan yang terus mengingatkanku, aku harus membukanya, menyatukannya dan membentangkannya ke dalam sebuah cerita yang utuh, but how????
"Galau" itu mungkin bisa sedikit mewakili apa yang selalu aku rasakan, membingungkan karena aku sendiri tak paham "galau" itu seperti apa sebenarnya, yah,.. mungkin sejenis perasaan yang ingin tapi juga tak ingin (mungkin, tapi aku juga belum yakin). sepertinya apa yang aku butuhkan saat ini adalah alat pemintal benang, yang bisa menguraikan sedikit demi sedikit benang yang kusut kemudian memintalnya agar bisa digunakan dalam membuat sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.
yup... dari benang itu kemudian aku mengenal kata fleksibel. sepertinya apa yang aku inginkan ataupun butuhkan, adalah membuat hatiku menjadi fleksibel, seperti karet atau yah sejenisnyalah, agar tidak ada yang bisa melukai ataupun merobeknya lagi.

Komentar